WEDA, Goresanmalut.com – 10 Agustus 2026 — Antrean panjang kendaraan terjadi di salah satu Pertashop yang berada di kawasan Desa Waybulen, wilayah sekitar areal pertambangan. Warga harus menunggu hingga berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat yang setiap hari membutuhkan BBM untuk menunjang aktivitas mereka. Salah seorang warga, Irfan, mengatakan antrean panjang di Pertashop bukan merupakan persoalan baru. Menurutnya, keterbatasan stok BBM tidak sebanding dengan jumlah warga yang bermukim dan beraktivitas di kawasan pertambangan.
“Setiap kali mau mengisi minyak, selalu harus antre. Persoalannya, stok BBM yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah warga yang ada di sekitar kawasan pertambangan yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang,” ujar Irfan, Senin (10/8/2026).
Ia mengatakan, warga terkadang harus menghabiskan waktu dua hingga tiga jam hanya untuk mendapatkan BBM. Bahkan, antrean panjang tersebut belum menjamin warga memperoleh BBM apabila persediaan di Pertashop telah habis.
“Kadang kami antre sampai dua atau tiga jam. Itu pun kalau stok BBM masih banyak. Kalau stoknya tidak mencukupi, kami bisa saja tidak mendapatkan BBM,” katanya.
Saat ini, terdapat tiga lokasi Pertashop yang melayani kebutuhan BBM masyarakat di kawasan tersebut, yakni di Desa Dokulamo, Desa Gamaf, dan Desa Waybulen. Namun, menurut warga, ketiga Pertashop tersebut tidak selalu beroperasi setiap hari.
Sementara itu, keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di Desa Kobe dinilai terlalu jauh dari kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat di sekitar areal pertambangan.
Kondisi tersebut, kata Irfan, membuat sebagian masyarakat terpaksa membeli BBM eceran di warung dengan harga yang jauh lebih mahal.
“Sekarang harga minyak di warung sudah mencapai Rp18.000 per liter. Belum lagi biaya kos dan kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin mahal,” ungkapnya.
Menurut Irfan, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan pembangunan satu unit SPBU dengan kapasitas pelayanan yang lebih besar di kawasan sekitar areal pertambangan. Kehadiran SPBU tersebut dinilai dapat mengurangi antrean sekaligus mempermudah masyarakat memperoleh BBM dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kami sangat berharap pemerintah daerah bisa membangun satu SPBU yang lebih besar. Jumlah warga di beberapa desa yang berada di sekitar areal pertambangan sangat banyak. Kalau dibandingkan dengan stok BBM yang tersedia di tiga Pertashop, jelas tidak seimbang,” ujarnya.
Ia menilai pembangunan SPBU berskala lebih besar akan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama bagi warga yang setiap hari membutuhkan BBM untuk bekerja dan menjalankan aktivitas ekonomi.
“Kalau dibangun satu SPBU yang besar, itu sudah sangat luar biasa dan tentu sangat membantu masyarakat di sekitar kawasan pertambangan,” katanya.
Irfan berharap pemerintah daerah tidak hanya memperhatikan aktivitas ekonomi di kawasan pertambangan, tetapi juga kebutuhan dasar masyarakat yang tinggal dan bekerja di wilayah tersebut.
“Harga BBM sudah mahal, biaya kos juga mahal, belum lagi kebutuhan hidup sehari-hari. Setiap bulan kami menerima gaji, tetapi sebagian besar habis untuk biaya makan. Kami sangat berharap pemerintah daerah dapat memperhatikan kondisi masyarakat,” tutup Irfan.
Penulis: Titus Tude














